Sabtu, 03 Juni 2017

Akhir dari Cerita

Tak terasa ramadhan sudah satu pekan dijalani. Semoga makin banyak pahala, maghfiroh, keberkahan yang diperoleh. Aamiin

Ngomong-ngomong ramadhan, saya ingat seseorang yang sangat kukenal dekat. Ya, seorang ibu paruh baya beranak banyak.

Untuk menghidupi anaknya dia jualan sarapan. Bisa ditebak, jualannya hanya pagi, jam delapan sudah selesai. Banyak pembeli yang datang karena kelezatan nasi kuningya, karena sudah menyebar ke negeri tetangga. Eh, maksudnya kampung tetangga. Hehe

Suatu hari saya pernah duduk bareng. Seperti biasanya dia suka berbagi cerita.

"Bu Cati itu susah diomong. Saya mah suka kasian. Orang sudah lanjut usia, tapi kekeh pengen kerja. "
"Ya, Bu Cati suka bantu menjajakan jualan saya. Lumayan, dia juga dapet beberapa puluh ribu tiap keliling. Padahal tanpa bantuannya, jualan saya cepat habis," lanjutnya.

"Dulu, saya pernah nyuruh Bu Cati untuk menjajakan jualanku jika ramadhan datang. Tapi beliau tolak, katanya ramadhan mau fokus ibadah, gak mau jualan. Memang orangnya rajin banget ibadah."

Saya semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Kenapa tiba-tiba Dia cerita Bu Cati?

"Suatu hari ada sesuatu yang ganjil dengan Bu Cati. Biasanya dia ikut ramai dikala saya sibuk melayani pembeli. Biasanya dia nyuruh saya cepet-cepet bungkusin pesanananya. Tapi, pagi itu diam... "

"Pagi itu juga, entah kenapa ada salah satu pembeli yang negur dia, suaranya agak keras. Karena Bu Cuti keasyikan palah pilih cireng tapi tidak lekas memilih. Mungkin pembeli tersebut merasa jijih."

"Saya sudah terbiasa melihat Bu Cati ditegur pembeli lain, diam. Setelah bungkusan sudah diterima, Bu Cati pun pergi..." Lanjutnya.

Raut mukanya yang anggun, tiba-tiba kusut. Matanya mengerdipkan beberapa kali, seperti menahan seuatu.

"Beberapa jam kemudian, saya dapat kabar, ada kecelakaan di jalan raya. Korban tertabrak sepeda motor, tubuhnya terlempar jauh. Dia adalah Bu Cati."

Seketika tangisnya pecah. Kurengkuh beliau. Masih saja isaknya bernada. Kedua pundaknya naik turun. Dia berduka.

"Saya merasa bersalah. Dia kecelakaan pulang dari menjajakan jualanku." Suaranya kecil, tapi saya mendengar jelas.

Masih dalam rengkuhanku, isaknya tambah panjang. Kutepuk pelan punggung belakangnya, melayangkan doa untuk almarhumah, "Semoga husnul khotimah."

Akhir ceritanya mengenang akhir cerita hidup Bu Cati.

"Bila tiba saat berganti dunia. Alam yang sangat jauh berbeda. Siapkah kita menjawab semua, pertanyaan..."
(Ungu, Bila Tiba)

Sukra, 9 Ramadhan 1438 H.
Nur Musabikah

#Onedayonepost
#Renungan

Tidak ada komentar:

THEME BY RUMAH ES