Rabu, 09 Agustus 2017

Masalah Oh Masalah

Tahun 2016, dalam acara outbound Kebetulan saat itu saya panitia, jadi tidak ikut dalam barisan peserta. Ya, saya di depan berjejer dengan panitia bagian acara.

Sebelum outbound mulai, seperti biasanya dibentuk kelompok terlebih dahulu. Sang MC menyuruh satu per satu peserta menyebutkan angka satu sampai tujuh. Satu kelompok terdiri atas peserta yang sama menyebutkan angka. Tak lama mereka berbaris sesuai kelompok masing-masing.

Untuk pembagian nama kelompok,
panitia sudah meyiapkan nama kelompok yang tertulis di kertas warna lengkap dengan tali di setiap ujungnya.

Sang MC memberi arahan, menyuruh beberapa panitia -salah satunya saya- untuk maju ke depan. Dan ternyata, kami disuruh mengambil kertas tersebut, lalu dilingkarkan ke leher. Jadi nama dalam kertas tersebut terbaca jelas oleh peserta.

"Baik teman-teman, untuk pembagian nama kelompok, dalam hitungan ketiga, panitia yang di depan ini lari sesuka arah kemana saja. Nah, setaip ketua kelompok mengejar salah satu panitia tersebut sesuai nama kelompok yang diinginkan," jelasnya.

Seketika saya merasa takut karena bakal dikejar mereka. Haha.

"Satu... Dua... Tiga..."
Sang MC memberi aba. Tangan kirinya refleks menunjuk ke atas.

Sontak saya lari, menghindar dari kejaran. Ada yang sama sekali ga dikejar. Beda dengan saya, beberapa ketua kelompok  mengejar. Sontak, saya lari kencang.

Eh, kok jadi ketawa terus? Apa hubungannya dengan judul?

Hehe
Begini... Ketua kelompok yang mengejar panitia anggap saja masalah. Jadi ketika dihadapkan dengan masalah, harusnya bersyukur dan bahagia. Lho?! Ya, karena hidup kita hendak maju. Adanya masalah, menjadikan kita bergerak bahkan berlari. Menjadikan kita lebih dewasa, hingga menapaki sedikit demi sedikit tangga kesuksesan.

Ketika ada masalah, boleh mengeluh, sedikit saja. Wajar, jika ada rasa takut, seperti cerita di atas, awalnya saya merasa takut ketika tahu akan ada orang mengejar, apalagi banyak. Hingga akhirnya  saya lari kencang.

Bukannya hakekat hidup itu belajar? Masalah adalah ujian. Supaya hidup kita naik kelas. Aamiin

*onedayonepost

Review Cerpen

Judul: Arok Sang Mahadewa
Penulis: Heru Sang Mahadewa

Salah satu member ODOP ini sudah punya khas tersendiri. Merangkai kata tentang sejarah tidaklah mudah. Namun, beliau sudah sangat lihai menulis, terbukti dengan banyak tulisan dalam blog pribadinya.

Di awal tulisan, saya dibuat wah dengan sebaris kalimat yang diakhiri tanda seru. Pembukaan paragraf yang bagus.

Dari paragraf ke paragraf membuat saya penasaran. Mungkin karena penulis membawa pembaca menemukan konflik sangat rapih. Ditambah dengan pemilihan kata yang mudah dipahami.
Bagaimana pun ada kalimat yang menggunakan diksi keren. Seperti berikut;

"Langit di atas Candi Palah nampak gelap gulita. Tiada gemintang yang menampakkan cahaya walaupun sekerlip."

Ada lagi...

"Selain memiliki guratan aksara yang indah, Mpu Panggih juga berpengalaman menjadi guru tulis pakuwon semenjak Tunggul Ametung masih hidup."

Adakalanya saya mengulang bacaan beberapa kali. Tahu kenapa? karena memang alurnya yang unik. Hehehe.

Bagi pembaca yang mungkin merasa sulit mengerti dengan istilah-istilah asing, penulis memberikan catatan kaki. Agar kita semakin mudah mencerna setiap kalimat.

Secara keseluruhan, cerpen ini patut diapresiasi lebih. Karena karya seperti ini sedikit ditulis oleh banyak orang.

Selamat membaca ;)
http://dloverheruwidayanto.blogspot.co.id/2017/07/arok-sang-mahadewa.html?m=1

#onedayonepost

THEME BY RUMAH ES