Kamis, 24 Januari 2019

Gus Mus: Tentang Takwa

Saya suka baca buku non fiksi agama tentang ketauhidan.  Tulisan-tulisan Kyai asal Rembang ini salah satu tulisan yang paling kusuka, mengingatkan saya bahwa manusia itu sangat kecil banget, Tuhan lah yang Maha Esa.

Buku ini adalah kumpulan tulisan beliau yang pernah terpampang di berbagai media cetak. Ada tiga bab yang terdiri dari beberapa sub bab.

Saya sendiri beberapa kali loncat ke bab lain, karena otak saya ga mampu. Hehe

Sampailah ke sub bab 'Dia , Saya, dan Takwa'. Di sana beliau menuliskan seorang sahabat --bisa dibilang gitu kali ya-- yang tiba-tiba main ke rumah. Karena waktu Maghrib tiba, si sahabat ikut berjamaah di surau pesantren bersama santri-santri. Saat wiridan beliau sempet memperhatikan sahabatnya dari Jakarta ini, berpenampilan ala orang kota.  Dari mulai fisik, cara berpakaian, namanya, dan lain-lain.  pun tak lupa membandingkan diri. Intinya kalau dilihat dari segi agama beliau yang paling nonjol dibanding sahabatnya sebagai seorang seniman.

Hingga akhirnya beliau bertanya pada diri, apakah beliau lebih mulia daripada sahabatnya? Apakah beliau lebih bertakwa daripada sahabatnya? Bukankah seseorang yang paling mulia disisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa? Begitu kira-kira renungan beliau di buku yang saya baca.

Renungan beliau tidak menggantung begitu saja. Setelah itu beliau menuliskan beberapa definisi takwa dari bebagai sumber, salah satunya Alquran. Beliau menyimpulkan:

Kesenimanan dan kekiaian tidak termasuk kriterium. Jadi sepanjang menyangkut soal ketakwaan, saya tidak bisa sekedar mengukurnya dari kesenimanan dan kekiaian saya. Apalagi Rasulullah sendiri pernah berkata, sambil menunjuk dada, "At taqwa ha hunaa." (Takwa itu di sini).
Tapi saya tidak mengukur siapa-siapa, saya sedang bercermin pada diri kawan saya yang seniman dan saya melihat beberapa hal yang dapat saya manfaatkan untuk diri saya.
Saya melihat kekhusyuan tidak dalam salat dan wiridannya saja. Saya melihatnya juga pada saat dia bicara atau mendengarkan tentang Tuhan, bahkan tentang ciptaan-Nya. Dia menyimak dan merekam segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah. Atau bahkan dia menyimak dan merekam-Nya pada segala sesuatu.
(Halaman 233)

Saya sengaja menebalkan dua kalimat terakhir. Hehe.

Beliau juga menyebutkan nama sahabat tersebut. Dan ternyata nama tersebut ga asing bagi pecinta literasi. Penasaran ga?

Oh iya saya belum khatam baca buku ini, tapi entah kenapa rasanya tangan ini ingin bermain ria dengan keyboard ponselku, buku ini sangat cocok buat anda agar lebih kenal dengan Tuhan.

Judul: Pesan Islam Sehari-hari
Penulis: A. Mustofa. Bisri
Penerbit: Laksana

#365days
#6of365
#2019bercerita

3 komentar:

MS Wijaya mengatakan...

Pinjem bukunya mba 😂😂

Isnania mengatakan...

Siapakah dia?😍

Yuliani Djaya mengatakan...

Penasaran bukunya

THEME BY RUMAH ES