Selasa, 05 Juni 2018

Masa Remaja

Setiap insan pasti merasakan kebahagiaan tersendiri ketika mengenang masa lalu. Salah satunya masa remaja, masa --yang konon-- sebagai ajang nencari jati diri, masa di mana sesorang harus mulai mengejar mimpi-mimpi.

Aku terlahir dari keluarga sederhana, kaya pun tidak, miskin pun tidak, ngepas. Tradisi mesantren sudah ada sejak orang tua terdahulu. Pun dengan kami, anak-anaknya. Harus masuk pesantren saat waktunya tiba.

Hmm aku skip dulu deh...

Masa SMP, masa di mana aku mengenakan kerudung. Tahu apa alasanya? Karena mimi (baca: ibu) selalu membandingkan aku dengan orang lain. Masih sangat jelas ucapannya,

"Nok, ga mau kayak dia tah? bisa berpakaian rapat dan rapih? padahal kamu itu ya, pagi-pagi ke sekolah pakai kerudung, pulangnya langsung sekolah madrasah pakai kerudung juga, ashar pulang. Abis maghrib berangkat lagi, ngaji. Masa masih betah dengan kaos dan celana pendek?"

Huhu, jiwa mudaku saat itu memberontak. Hihi. Aku juga sempet ngebatin, "Mungkin karena dia rambutnya keriting, Mi. Jadi ditutupin."

Untungnya ga aku ucap langsung dihadapan Mimi sih, bisa-bisa
mulutku di potong beliau. Hihi.

Bergulirnya waktu, aku malu sendiri ketika pulang sekolah madrasah, harus ganti baju atau kaos dan celana pendek.
"Capek juga kalau harus gonta-ganti pakaian.Toh bentar lagi maghrib," batinku.

Tepatnya bulan ramadan kelas dua SMP, tahun 2005 (Yah, ketahuan deh usiaku  sudah ga muda) aku belajar pakai kerudung. Jadi sepulang dari sekolah madrasah, tak kulepas kain segitiga itu. Dan ya Alhamdulilaah hingga sekarang bisa pakai, terima kasih Mimi. Heuheu

Oh iya lanjut tradisi mesantren di keluargaku ya...

Lulus SMP aku tinggal di pesantren Cirebon, dua jam-an dari tempat tinggalku, Indramayu. Untuk menuju ke sana, kami biasa menggunakan bus. Walaupun dekat, aku jarang pulang, Libur pesantren dan sekolah formal tidak sama. Ketika kegiatan pesantren libur, sekolah formal malah aktif, dan sebaliknya. Jad, kalau mau pulang pas menjelang idul fitri.

Salah satu hal yg paling kuingat, ketika aku belajar pakai sarung. Hihi. Ya di sana diwajibkan pakai sarung setiap hari, kecuali kegiatan pulang sekolah formal, yakni madrasah pesantren. Seperti sekolah madrasah pada umumnya, kami diwajibkan pakai seragam, baju putih/batik dengan bawahan rok.

Pertama kali belajar sih, masih merasa takut sarungnya jatuh. Hihi. Apalagi kalau lipatan kiri dan kanan ga sejajar, tambah susah untuk jalan. Haha

Berjalannya waktu, aku sudah terbiasa pakai sarung. Malah kami sering pakai sarung yang saat itu kekinian di pesantren. Sarung Tuban. Ya, sarung yg bahannya jatuh, ga tebel, tapi ga nerawang. Motif dan warnanya beraneka ragam. Mungkin sarung tersebut produksi dari daerah Jawa lainnya juga. Tapi, entah kenapa kami sering menyebutnya sarung Tuban.

Nah itu sekilas cerita masa remajaku. Entahlah, aku harus menyesal atau sedih karena mimi menyuruhku tinggal di pesantren, tempat yang identik dengan ketertinggalan, ga moderen. Hiks

Tapi yakinlah, seperti yang pernah diucapkan oleh saudaraku, "Selagi masih di dunia, sesuatu yang ga tahu dan bisa, dapat kita pelajari. Tapi kalau sudah di akhirat, mana bisa?"

*GSK 2, saat matahari menyapaku, masih tanpamu.

#RWCODOP2018
#Ramadankarim

Tidak ada komentar:

THEME BY RUMAH ES