Jumat, 01 Juni 2018

Kekasih Simpanan

Suatu hari, jika tak temukan aku dalam lembutnya selimut, aku bersamanya, kekasihku, selainmu

Jika tak temukan aku duduk di sofa, menunggumu, tempat biasa kita bersua, aku bersamanya, belahan jiwaku, selainmu

Jika  tak temukan aku di beranda facebook, aku bersamanya, teman hidupku, selainmu

Jika kau bosan menunggu balasan chatku yang masih centang satu, aku bersamanya, teman chatku, selainmu

Kamu tak usah cemburu apalagi kecewa. Sebab ia sama sekali tak bisa membalas cintaku. Hanya kamu seorang, cintaku

Karena ia adalah lembaran kertas yang belum sempat kusibak

Karena ia adalah tumpukan benda kotak di rak tua, yang belum sempat kukibas dengan kemoceng biru

Karena ia adalah buku-bukuku.

Rawabadak, 17 Ramadan 1439 H

#RWCODOP2018

Kamis, 31 Mei 2018

Tulisan Tentang Teman

Tak mudah untuk kita, sadari... Saling mendengarkan hati...
(Nidji)

Bicara teman, aku sering kesulitan mengartikannya. Entahlah😅

Dari teman, terkadang aku belajar dewasa. Gini, aku pernah punya teman ga punya ibu, ada ayah tapi sudah punya istri lain. Jadi, komunikasi sama ayahnya kurang. Temanku ini usianya lebih banyak dariku. Tapi sifat, sikapnya kayak anak kecil. Aku pun sempet ill feel. Setelah tahu kondisi sebenarnya, aku pun berusaha menyikapinya secara dewasa, berkata bijak dll. Hihi. Aku pikir wajar saja dia bersikap demikian, karena memang kurang mendapat kasih sayang dari kelurga. Ia butuh kasih sayang dari pertemanan. Ya, aku. Heuheu

Dari teman, aku belajar tentang hubungan saudara kandung. Aku punya teman, dia anak paling bungsu. Kalau mendengar cerita tentang keluarganh, aku bisa menyimpulkan, bahwa memang seorang kakak itu harus jadi teladan buat adik-adiknya. Secara, aku anak paling gede, ada pelajaran yg bisa kuambil menjadi seorang kakak, seperti temanku yg terinspirasi oleh kesuksesan kakaknya. Aku pun harus bisa menjadi inspirasi adik-adikku. Semoga.

Dari teman, aku belajar saling mengerti. Jika ada kesempatan untuk berkumpul, ada saja obrolan gini:
- Si A kok ga datang ya, kenapa?
+ Ibunya sedang sakit, dia jaga ibu di rumah.

- Si C kapan tuh nikahnya?
+ Dia kan anak pertama, baru aja lulus. Masih punya tanggungan adik-adik, mungkin dia mau fokus kerja buat keluarga dulu.

+ Kamu, kenapa sih jarang like statusku?
- Aku baper, like postingan foto bareng sama teman-temanmu yang cantik itu. Nanti rinduku padamu nambah bertambah.
+ Hihi... Cemburu ya? sayang dong sama aku
- Tau ah!

Ya, dari mereka aku belajar saling mengerti, memahami dan menghargai, menjaga hati.

Dari teman, aku belajar bersyukur. Ya, ketika teman-teman sudah tidak mempunyai orang tua lengkap. Itu membuatku harus lebih berbakti kepada kedua orang tua.

Hm ga ada ujungnya kalau bahas teman. Di atas hanya secuil apa yang kurasakan dari sebuah pertemanan. Kita. aku dan temanku.

Kau sempurna...
Jadi bagian hidupku...
Apapun kekuranganmu...
(Nidji)

*Kota Nanas, di bawah terangnya rembulan

#RWCODOP2018
#Ramadankarim
#Ramadan1439H

Selasa, 29 Mei 2018

Allah Tidak Tidur

"Makan yang banyak ah, biar nanti di tempat kerja ga lapar."

"Toh... Teman-teman, menganggapku puasa."

"Dia itu ya, udah tahu bulan radaman. Kok ga puasa."

"Sayang banget, puasanya kalau ga salat."

"Dia ini puasa ga sih, marah-marah terus."

Pernyataan-pernyataan ini mungkin pernah kita lontarkan. Seakan-akan kita tak menyadari kehadiran-Nya.
Seakan-akan kita lah yang lebih baik dari yang lain.

Allah mengawasi terhadap apa yang kita lakukan. Allah pun menutup aib kita dengan sangat rapat. Ia memberi waktu untuk kita memperbaiki kesalahan.

Makan siang hari di bulan ramadan, sama saja menganggap-Nya tidak melihat.

Menilai amal seseorang, sama saja menganggap diri ini paling baik. Hanya Allah yang menilai amal seseorang.

Allah tidak tidur. Karena salah satu sifat Allah Mukholafatul lil Khawadisti, artinya berbeda dengan seluruh makhluk. Dan tidur adalah salah satu sifat dari makhluk.

*Rawabadak, di sudut kamar kos.

#RWCODOP2018
#Fastwriting
#Nasihatdiri

Minggu, 27 Mei 2018

Sahur: Makan Spesial dalam Satu Tahun

Siapa yang benar-benar menikmati makan sahur? dengan kondisi tubuh lemes, mata masih sepet (salak kali!) dan belum sadar penuh. Saya pun harus mengakui, bukan saya. Hiks

Tak terasa pekan pertama terlewati, semoga makin semangat segala ibadahnya, salah satunya sahur.

Sahur, makan pagi hari sebelum waktu shubuh tiba, sebulan dalam satu tahun. Spesial kan? Iya. Tapi, ada saja yang malas melakukan aktivitas ini, contohnya saya. Hehe

Berikut saya bagi tips, supaya tetap semangat saat sahur:

1. Mandi
Jika waktu memungkinkan, bangun tidur segera mandi lalu salat tahajud. Dijamin seger! Sahur pun jadi semangat. Ini pengalamn saya saat dapet shift dua, pulang kerja sekitar pukul 22:15, setibanya di kos, saya langsung tidur (ga sengaja) dan belum salat isya. Alhamdulilahnya Allah bangunkan saya sebelum habis waktu isya. Sekitar jam dua. Alhasil saya mandi. Seger! sahur pun jadi semangat.

2. Percaya atau tidak, gadget ngaruh besar. Siapa yang bangun tidur, ga langsung tengok benda ajaib ini? Hehe. Gadget membuat mata terbuka. Apalagi kalau sudah  berselancar ke sosial media. Gunakan saja kesempatan ini supaya sahurnya semangat, ga ngantuk. Namun, tidak perlu kelamaan nanti keterusan, ga fokus makan dan teman sebelah. Hehe

3. Wudhu
Ya, walaupun ga mandi, biasakan wudhu. Supaya wajah kita cerah. Lebih utama lagi, salat dua rakaat:)

4. Sadar akan keutamaan sahur

Sahur itu sunah. Waktu sahur adalah berkah. Waktu sahur adalah waktu mustajab doa-doa kita. Jika kita punya kesadaran tentang hal itu, tidak ada rasa malas ketika bangun sahur. Semoga.

#RWCODOP2018
#Nasihatdiri

Rawabadak, dalam terangnya bulan :)

Belanja di Bulan Ramadan

Belanja merupakan aktivitas menyenangkan sekaligus menguras tenaga. Kegiatan ini sangat dekat dengan wanita. Hehe. Ayo, ngaku?!

Apalagi di bulan puasa, kegiatan ini dilakukan setiap hari, belanja sayur mayur buat persiapan buka dan sahur. Belum lagi menjelang beduk maghrib tiba,  orang-orang berbondong menyerbu pedagang kolak -makanan manis- atau es. Nah kan belanja lagi?!

Menyambut lebaran pun tak luput dari belanja. Baju, kerudung, peci, sarung, dan jenis pakaian lainya harus baru. Iya kan? Hehe
Eh makanan! Ya, lebaran rasanya tak lengkap dengan suguhan spesial. Bikin ketupat, opor, berbagai macam kue kering, bolu, puding, dan lain-lain.

Boleh saja sih, toh itu sebagai hadiah untuk anak atau adik bisa puasa sebulan penuh di bulan ramadan. Tapi kalau berlebihan? Kurang baik juga. Tulisan ini nasihat untuk diri saya dan kelaurga.

Mumpung ramadan, bulan dilipatgandakan segala amal, baiknya belanjakan saja harta kita untuk mereka yang membutuhkan. Nabi pun menganjurkan untuk umat-Nya, bahwasanya siapa saja yang memberi sebutir kurma atau seteguk air untuk orang yang berpuasa maka Allah akan memberikan pahala.

Di kampung saya, orang-orang pada ngasih makanan atau snack dan minuman kepada masjid atau musala. Untuk nanti dibagikan kepada jamaah tarawih. Bisa jadi, apa yang mereka lakukan  adalah bentuk sedekah di bulan penuh barokah.
Semoga.

Jadi? Tunggu apalagi? Ayok Belanja di bulan ramadan, membelanjakan harta di jalan-Nya:)

#RWCODOP2018
#Onedayonepost

Rabu, 23 Mei 2018

Tadarus-an

Tadarus-an
Oleh: Nur M

Satu bulan lamanya Engkau memanjakan
dengan segudang keutamaan, menjanjikan
dengan ampunan
dengan rahman, pahala dilipatgandakan

Setiap insan menyambut Nuzulul Quran
Kitab panutan
Kitab akhir zaman
Membacanya, mengkhatamkan

Corong setiap rumah-Mu bersautan
menyuarakan
melantunkan
Kalam-Mu  yang menawan

Terima kasih, Tuhan
Engkan beri kami, ramadan.
.
Rabu, 7 Ramadan 1439 H
.

#RWCODOP2018
#Ramadankarem

Selasa, 22 Mei 2018

Takjil dan Sabar

Nikmat yang agung ketika hari pertana puasa tiba, saya giliran shift pagi. Selain bisa tarawih, juga bisa bukber di kos. Konon, menurut karyawan lama saat buka puasa di pabrik, ngantrinya panjang. Iya lah, bayangkan ribuan karyawan tumplek dalam satu tempat. Biasanya jadwal makan selain bulan puasa, dibagi. Ngantri, tapi ga panjang.

Nah siang itu, sepulang kerja  saya dan teman satu kamar, langsung tepar. Kecapekan. Karena ga pasang alarm, pukul setengah lima  kami baru bangun. Sontak kami kelimpungan. Belum salat, belum belanja sayuran.

Setelah salat dan mandi, akhirnya kami memutuskan untuk beli lauk yang sudah masak, tak perlu repot. padahal kami tipe orang yang suka masak, apalagi numis sayuran.

Meluncurlah kami ke tempat beli penyegar. Es? Ya. 

"Kenapa sih beli es kelapa muda di sana? kan di sini dekat. "
saya request kepada teman.

"Di sana pakai air kelapa asli, " jawabnya meyakinkan.

Sebelum ke tempat, kami memesan ayam bakar dan goreng, nanti sekembalinya, tinggal ambil saja.

Ibu pelayan pun mengangguk, mengiyakan. Menanggap apa yang kami utarakan.

Kurang lebih sepuluh menit, kami jalan kaki. Setibanya, antrian pun lumayan panjang. Saya bertemu teman lama, teman satu angkatan pas training kerja. Kami ngobrol. Tapi ga lama, pesenan kami datang.

Angin sore dan semburat senja memanjakan kami. Membuat kami menikmati perjalanan tanpa kendaraan. Sesekali kami menengok, khawatir, karena banyak kendaraan roda dua berseliweran cepat di pinggir jalan.

Gerobak penjaja makanan di jalan, samar tak terlihat karena sekerumunan orang menutupi. Apalagi macam es buah, jus dan semacamnya.

Tak terasa kami sampai di sekerumunan  gerobak hijau bertuliskan "Sedia ayam dan ikan bakar" Kami pun langsung meminta pesanan sama ibu berkerudung biru itu. Jawabannya membuat kami tercengang.

"Maaf ya, saya lupa tadi siapa yang pesan. Jadi bungkusan punya kalian, saya kasih ke orang lain."

Deg! Yaampuuuun.

Ibu pelayan masih saja sibuk melayani orang-orang yang baru saya lihat. Ya mereka datang setelah keprgianku, beli es kelapa.
Entah kapan ia akan melayani pesanan kami.

"Ya sudah, Bu, kami pulang ke kos dulu. Salat dulu, nanti  kami kembali, jangan lupa tiga bungkus ya, Bu."

saya mengingatkan ulang, sebelum saya benar-benar pergi, memunggung gerobak dan orang-orang di sana.

Jujur, saya kesal banget. Hihi. Apalagi berbuka itu harus ditakjilkan, dipercepat, disegerakan, tidak ditunda. Kami pun segera pulang ke kos. Membatalkan puasa kami dengan seteguk air putih, lalu menyantap segarnya kelapa muda. Walaupun jengkel, saya berusaha sabar (ciee), tidak marah pada ibu pelayan. Bukannya hakikat ramadan itu menahan hawa nafsu?
.
Kota Mangga, di siang tanpa terik matahari.

*onedayonepost

THEME BY RUMAH ES