Kamis, 14 Maret 2019

Sosok di Balik 'Nikmat Bersua dengan-Mu'

Boleh dong share pengalaman menulis buku hingga selesai...

Dulu sebelum menulis naskah #nikmatbersuadenganmu, saya ingin banget menyimpan kenangan atau jejak selama merantau di Hong Kong. Itu pun gara-gara ada salah satu  guru nulis saya bilang begini, "Saya yakin banyak cerita yang dialami TKI di sana, coba tuliskan, ikat salah satu hikmahnya."

Oh ya ya, sayang juga kalau kenangan itu lewat begitu saja, tanpa kusimpan, kutulis menjadi sebuah buku. Janjiku saat itu.

Bagiku itu sebuah motivasi, dorongan untuk segera menulis rekam jejak TKI. Sesederhana itu ya? 🤣

Berjalannya waktu, saya pernah mendengar langsung dari Tere Liye dalam seminar di Jakarta, beliau bilang, "Tuliskan sebanyak-banyaknya motivasi, jika salah satu gugur, masih ada sisa motivasi lainnya."

Saat itu beliau menyebutkan angka 99, jika satu gugur, masih ada 98 tersisa.

Kok pas banget, ketika saya sudah pusing dan mual (hamil kali) menyelesaikan naskah, ada orang ngomong seperti itu. Alhamdulilaah, obat nih, batinku.

Hari-hari berikutnya saya baca ulang buku-buku teknik kepenulisan, satu buku khatam beralih ke buku lain dan seterusnya. Saya ingat-ingat ulang materi kepenulisan dari beberapa grup yang pernah saya ikuti. Hingga akhirnya saya menemukan motivasi baru.

1. Buku pertama adalah gerbang pertama

Perjalanan panjang dimulai dengan langkah pertama. Sama saja dengan buku  pertama, ia akan menjadi penyemangat untuk buku selanjutnya. Ia akan menuntun ke gerbang selanjutnya.

Saat mentok itu, saya sering banget berpikir, "Lha masa naskah ga selesai, gimana saya mau nulis naskah lain, sedangkan naskah sekarang belum selesai."

Saya pun menertawai diri, untuk segera menyelesaikan naskah. Haha

2. Dikenal keluarga

Saya pernah ikut pelatihan menulis online, sang pemateri mengajukan pertanyaan:

"Ada gak sih diantara kalian yang tahu nama buyut, canggah, wareng?" (Silsilah dari kakek dalam Jawa)

Tiba-tiba chat bersautan

Tidak tahu
Tidak tahu
Saya tahu nama Kakek doang

Dan masih banyak chat sama.

"Nah  kalian tahu ga, kira-kira kenapa kalian sampai ga tahu nama mereka?"

Kami masih terdiam.

"Ya, karena mereka tidak meninggalkan karya. Karena mereka tidak meninggalkan pesan buat kalian."

Tak ada satu pun chat berseliweran.

"Berjanjilah pada diri, sebelum usia habis bisa menerbitkan buku minimal satu. Untuk kelak anak cucu keturunan kalian."

Sang pemateri mengakhiri pertemuan itu.

Selain yang disebutkan di atas, beberapa motivasi penulis terkemuka selalu dibaca ulang, ditulis di mana pun, diary, note, dll.

"Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kamu ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri."
(J.K. Rowling)

Sekarang sudah tahu ya, jawaban judul tulisan ini? Tepat, sosok itu adalah motivasi. Misal ada yang tanya, kenapa ya naskahku belum selesai? Bisa jadi karena motivasi  kurang kuat.

Motivasi itu apa sih?
Coba tanya pada diri,
mengapa kamu menulis?
Sudah dijawab? Itu dia motivasi.

Tulisan berikutnya, saya mau berbagi pengalaman kirim naskah ke penerbit. Insya Allah🤲

Kota Nanas, 14 Maret 2019

#onedayonepost
#365days
#9of365
#2019bercerita

Selasa, 29 Januari 2019

Abah, Aku dan Kamu

Tahun 2011, saat itu saya kerja di sebuah mini market. Karena perempuan, tentu saja posisi saya sebagai kasir. Jarak tempat tinggal orang tua ke market lumayan jauh,  tidak ada kendaraan umum kecuali ojek. Bisa ditebak, ongkosnya lebih  mehong. Itulah alasan saya indekos.

Dan pada suatu hari, saya mendapat kabar dari teman satu angkatan di pesantren, kabarnya ia ingin melangsungkan pernikahan. Ia lumayan dekat, pernah satu tempat duduk di Madrasah Aliah.

Kebetulan saat itu, saya kebagian sif siang. Masih ada waktu untuk bisa hadir di waktu pagi.

Hari H pun tiba, saya berangkat ke rumahnya dengan kendaraan umum. Seorang diri. Dengan tabungan tanya alamat lewat SMS atau telepon, dulu mah belum punya android, mana bisa ngecek lokasi lewat google map.

Singkat cerita, akhirnya sampai juga. Di sana sudah banyak teman-teman pesantren. Bisa dibilang reuni kecil-kecil kalau zaman now mah reuni tipis-tipis. Hehe. Kami saling bertukar cerita, tenggelam dalam kenangan.

Saat ijab kabul, kebetulan saya ada di kamar mendampingi pengantin. Artinya selama ijab kabul berlangsung si pengantin wanita di kamar.

Setelah ramai-ramai para undangan mengucapakan sah, pengantin pria masuk ke kamar menjemput pengantin wanita. Ada pemandangan sangat indah yg kulihat saat itu. Lebih indah dari hijaunya pegunungan Indonesia. Heuheu

Abah -- demikian kami memanggilnya -- Sang pengasuh Pondok Pesantren mendampingi pengantin pria menuju kamar, setelah keduanya bertemu, mereka bersalaman. Lantas dari samping Abang memegang tangan kanan pria, lalu diarahkan  ke atas kepala pengantin wanita.

Abah memimpin doa yang diikuti pengantin pria.

"Allahumma inni As-aluka khairaha wa Khaira ma jabaltaha 'alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaih"

Saya yang saat itu ada disamping pengantin takjub dan terharu, melihat sepasang insan saling mendoakan dan mengaminkan, dibimbing oleh Abah.

Ah..  kelak aku pengen seperti mereka
Ah.. kelak aku pengen seperti mereka
Ah.. kelak aku pengen didoakan suami dan langsung dibimbing Abah
Ah.. hanya mimpi

Saya pun sengaja menghentikan angan-angan saya. Saya sengaja bangun dari mimpi konyol itu. Bergegas saya  keluar kamar melihat kelanjutan akad nikah, menandatangani berkas-berkas, serah terima mahar dan lain-lain.

Tak lama kami mengabadikan momen spesial itu dengan kamera.
Setelah puas, saya pamit pulang, mengejar waktu kerja.
****

25 Desember 2018 angan-angan saya ternyata terjadi di musalah Uak -- saya biasa memanggil beliau, Uwak Mus, musalah keluarga. Sepasang insan berdiri dengan didampingi Abah.

Ya Rabb, syukur padaMu atas nikmatMu.

#365days
#5of365
#2019bercerita

Kamis, 24 Januari 2019

Gus Mus: Tentang Takwa

Saya suka baca buku non fiksi agama tentang ketauhidan.  Tulisan-tulisan Kyai asal Rembang ini salah satu tulisan yang paling kusuka, mengingatkan saya bahwa manusia itu sangat kecil banget, Tuhan lah yang Maha Esa.

Buku ini adalah kumpulan tulisan beliau yang pernah terpampang di berbagai media cetak. Ada tiga bab yang terdiri dari beberapa sub bab.

Saya sendiri beberapa kali loncat ke bab lain, karena otak saya ga mampu. Hehe

Sampailah ke sub bab 'Dia , Saya, dan Takwa'. Di sana beliau menuliskan seorang sahabat --bisa dibilang gitu kali ya-- yang tiba-tiba main ke rumah. Karena waktu Maghrib tiba, si sahabat ikut berjamaah di surau pesantren bersama santri-santri. Saat wiridan beliau sempet memperhatikan sahabatnya dari Jakarta ini, berpenampilan ala orang kota.  Dari mulai fisik, cara berpakaian, namanya, dan lain-lain.  pun tak lupa membandingkan diri. Intinya kalau dilihat dari segi agama beliau yang paling nonjol dibanding sahabatnya sebagai seorang seniman.

Hingga akhirnya beliau bertanya pada diri, apakah beliau lebih mulia daripada sahabatnya? Apakah beliau lebih bertakwa daripada sahabatnya? Bukankah seseorang yang paling mulia disisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa? Begitu kira-kira renungan beliau di buku yang saya baca.

Renungan beliau tidak menggantung begitu saja. Setelah itu beliau menuliskan beberapa definisi takwa dari bebagai sumber, salah satunya Alquran. Beliau menyimpulkan:

Kesenimanan dan kekiaian tidak termasuk kriterium. Jadi sepanjang menyangkut soal ketakwaan, saya tidak bisa sekedar mengukurnya dari kesenimanan dan kekiaian saya. Apalagi Rasulullah sendiri pernah berkata, sambil menunjuk dada, "At taqwa ha hunaa." (Takwa itu di sini).
Tapi saya tidak mengukur siapa-siapa, saya sedang bercermin pada diri kawan saya yang seniman dan saya melihat beberapa hal yang dapat saya manfaatkan untuk diri saya.
Saya melihat kekhusyuan tidak dalam salat dan wiridannya saja. Saya melihatnya juga pada saat dia bicara atau mendengarkan tentang Tuhan, bahkan tentang ciptaan-Nya. Dia menyimak dan merekam segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah. Atau bahkan dia menyimak dan merekam-Nya pada segala sesuatu.
(Halaman 233)

Saya sengaja menebalkan dua kalimat terakhir. Hehe.

Beliau juga menyebutkan nama sahabat tersebut. Dan ternyata nama tersebut ga asing bagi pecinta literasi. Penasaran ga?

Oh iya saya belum khatam baca buku ini, tapi entah kenapa rasanya tangan ini ingin bermain ria dengan keyboard ponselku, buku ini sangat cocok buat anda agar lebih kenal dengan Tuhan.

Judul: Pesan Islam Sehari-hari
Penulis: A. Mustofa. Bisri
Penerbit: Laksana

#365days
#6of365
#2019bercerita

Jumat, 18 Januari 2019

Berbagi Kebaikan Melalui ODOP

"Satu Jam Termehek-mehek"

Aku sempet dibuat kaget saat membaca judul grup baru di WhatsApp. Wah semoga nanti bisa nimbrung, doaku siang itu. Sayangnya sindiran pacarku (baca: suami) terngiang keras, "Saya pengen deh jadi hape, biar dilihat kamu terus."
Jadi weh pada malam itu pilih menemani hari libur kerjanya.

Aku gabung Odop tiga yang saat itu dipimpin Mas Heru. Salut. Merasa bangga bisa gabung komunitas ini. Satu yang ga kudapat dari grup menulis lain, rasa kekeluargaan sesama anggota. Aku yakin kalian juga ngerasain.

Bergantinya tahun, Mas Ian yang kutahu orang Subang menggantikan jabatan penulis sejarah itu. Tambah salut. Lha ini ODOP makin banyak programnya, aku juga pernah ikut salah satunya, RCO. Reading Challenge ODOP. Walaupun ga pernah lulus, parahnya sudah ikut dua kali😂

Setelah naik turun lurus dan belok, ternyata acara serah terima jabatan kepengurusan ODOP 2019. Acara itu dipimpin oleh Mas Heru. Acara dibuka dengan lagu kebangsaan komunitas yang digagas oleh Bang Syaiha. "Satu Kali Lagi" lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh warga Odop 2, Mas Urip Widodo dan Mbak Heny.
Merinding banget🤗 terharu bisa gabung sama komunitas ini.

Lanjut dengan pidato dari Mas Ian, isinya ga kalah bikin merinding. Salah satu isi pidato yang sempat nangkring dipikiran saya:

ODOP adalah sebuah kebaikan yang harus dilanjutkan

Ya, kabaikan. Jika kita mendapat kebaikan dari A, maka si A memberi kebaikan serupa atau lebih kepada B, lalu si B memberi kebaikan kepada C dan seterusnya. Agar kebaikan terus berlanjut. Tidak putus di tengah jalan.

ODOP adalah wadah bagi orang-orang yang ingin berbagi kebaikan.

Acara itu dilanjut dengan tanya jawab diselingi becanda yang tak lepas dari para ODOPers.

Terakhir serah terima jabatan kepada kepengurusan baru.
Suasana makin haru.

Selamat bertugas Mas Suden, ingatkan kami agar terus berbagi kebaikan.

-- Nur Musabikah --

#365days
#2of365
#2019bercerita

Minggu, 28 Oktober 2018

Pulang itu Berat, Ga Pulang Jauh Lebih Berat

Tulisan ini bukan untuk melarang teman-teman menjadi TKI. Bukan. Silahkan kerja di  Rantau. Jemput rizki-Nya. Segerelah pulang kembali. 

Kamu serius mau pulang selamanya? Kamu kok ngbreak, sayang lho beberapa bulan lagi finish? Mumpung belum nikah, puas-puasin aja dulu di sini, baru pulang...

Pertanyaan dan pernyataan di atas aku tepiskan dengan niat. Ya saat mau pulang kampung kita kudu punya niat, bukan sekedar niat, niat itu kudu kuat, kalau diibaratkan dengan dinding, ga akan lecet karena digedor palu.
Kapan kita bisa pulang? Ketika tujuan kita di Negeri rantau terpenuhi dan sudah punya bekal. Bingung ya? Nih contohnya, dulu pas berangkat si Inem (contoh lho ya) bertujuan untuk membangun rumah.

Setelah  bisa membangun rumah, sudah saatnya Inem pulang.
Bekalnya apa? Tabungan. Tabungan itu untuk keperluan  kita tiap hari, masa pulang bisa bangun rumah, tapi buat jajan ga ada. Ga mungkin kan?

Selain tabungan juga punya kemahiran atau skill.  Apa saja. Buat jaga-jaga. Tapi menurut saya ini ga wajib sih, kecuali kalau ada rencana menekuni, misalnya buka usaha kuliner atau lainnya.

Biasanya saat mau pulang ujiannya buanyaaak. Salah satunya: Ragu.

Duh, nanti pulang di rumah ngapain yak. Duh bekalku pulang belum banyak ey, belum ikut kursus jahit, rias, komputer dll. Duh, tabunganku  belum  cukup. Nah ini sedikit dari banyaknya keraguan, ujian tadi.
Sudaah, tepiskan saja dengan niat kuat tadi. Karena dengan niat tadi akan menumbuhkan mental yang besar. Ya, mental, siap menghadapi apapun yang terjadi, siap menanggung risiko.

Prestasi terbesar ketika seseorang pulang kampung ketika ia bisa betah di rumah. Betah? Iyaaa! Ia bisa beradaptasi lagi dengan lingkungan setelah sekian lama tinggal di tanah rantau yang kondisinya jauuuh lebih beda. Apalagi kalau ada yang nyinyir gini:

Kerja di rumah tiap hari (kerjaan rumah) tapi ga digaji ya, beda sama tinggal di luar negeri.

Disenyumin aja, jawab dalam hati:
Kan lagi bantu orangtua atau suami (bagi yang ga jomblo), biar Tuhan yang gaji.

Gimana supaya betah? Lakukan apa yang kamu suka, sibukan diri! Apa aja. Intinya sih, gimana caranya kita lupa dengan dollar, gimana caranya kita ga inget (inget mah pasti ya, hehe) dengan fasilitas mantan negeri rantauan. Masih ga bisa move on gimana dong? Saat mau pulang, hiduplah sederhana sederhan.  Ga usah sering ngemall, makan di restoran, toh nanti di kampung, supaya sudah terbiasa ga ngemall, ga nongkrong di tempat wisata, dan lain-lain. Mending kita sudah langsung punya penghasilan, bagus atuh. Lha kalau belum, tabungan kita kan cuman buat kebutuhan harian, bukan buat liburan 🤣

Duh, aku lihat si Mbak itu alumni TKI juga sukses dengan usahanya, bisa bermanfaat dengan orang kampungnya.

Lho kamu tahu darimana? Tahu di akun facebooknya, hehe.

Hei, jalan hidup orang itu beda lho. Kalaupun mau meniru jejak seperti mereka bagus atuh. Silahkan. Persiapkan mental yang lebih besar lagi. Mental buat memulai usaha. Mental buat tiba-tiba usaha mandeg, sedangkan modal habis. Mbak yang kamu lihat mungkin post atau share hasilnya saja, prosesnya pasti berliku-liku, sakit walaupun tak berdarah 😂

Saya bilangin sekali lagi. Mental disiapkan untuk pulang saja dulu, biar betah. Bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Nanti kalau sudah betah, mau usaha apapun pasti bisa, apalagi sekarang zamannya online yang konon bisa usaha tanpa modal. Asal ya tadi, siapkan lagi mentalmu.

Teman-teman juga perlu tahu, nih yang nulis juga belum apa-apa, belum bisa usaha (boro-boro punya partner buat usaha, nikah aja belum. Hihi. Doain ya...), belum bisa bermanfaat untuk sekitar. Tapi saya ngerasa saya sudah bisa melewati satu fase, berani pulang. Lalu hati saya tergerak untuk segera nulis (apalagi setelah beberapa kali mendengar curhatan),  bisa berbagi buat teman-teman yang sebenarnya udah ngebet mau pulang, tapi ragu.

Ingat ya, langkah pertama bagi seorang TKI yang ingin sukses itu pulang.

Kunci lain supaya betah di kampung adalah bersyukur. Menerima dengan lapang pada apa yang kita miliki.

Tidakkah kau rindu dengan suasana kampung yang tiap waktu selalu mendengar suara adzan berkumandang. Tidakkah kau rindu dengan riuhnya pasar malam, berkumpul dengan keluarga atau kawan. Tidakkah kau rindu akan syahdunya lantunan tadarus Alquran di malam-malam Ramadan.
Tidakkah kau rindu akan gagahnya suara takbir saat malam satu Syawal.
Tidakkah kau rindu...
Ah, sudahlah, tanpa ditulis pun, kau tahu.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf lahir bathin.

Salam,
Nur Musabikah
#alumnitkihongkong

Jumat, 19 Oktober 2018

Kepada Gerimis

Kepada gerimis kuberkisah,
“Ranting tubuhku terpelanting ke sana ke sini
ditampar angin berkali-kali.
Helaian jasadku terkulai
terurai.”

Kepada gerimis kumengadu,
“Seonggok ragaku bergeming
kaku
terguyur tetesanmu
kuyup.”

Lalu, waktu melesat jauh

Kepada gerimis kumengukir mimpi, “Layaknya kamu, aku pun siap jatuh terus menerus walaupun pelan, akan ada saatnya datang hujan besar, amukan badai. Namun, akan pergi secepat ia datang."

Kepada gerimis kuberjanji,  "Layaknya kamu, aku  pun harus siap dicekam hawa dingin. Kelak akan tiba saatnya datang segerombolan putihnya awan, bentangan birunya langit,  dan  jingga matahari menyelimuti.”

Kepada gerimis kuiramakan lagu, “Setelah kepergianmu akan ada ranumnya kembang warna-warni, hijaunya pepohonan dengan batang yang kokoh.”
“Pun denganmu,” bisikmu.

Nur Musabikah
Kota Nanas, 28 September 2019

Sabtu, 01 September 2018

Menyambut Matahari

Di pintu dhuha-Mu aku mengetuk

Mengangkat kedua tangan, bersaksi atas kebesaran-Mu
Melangitkan ummul quran
Mengagungkan ayat-Mu
Membungkuk, menghadap-Mu
Mengikrarkan kemahasucian-Mu
Bersujud kepada-Mu
Menekadkan kemahasucian-Mu
Mengucap salam dan salam

Di pintu dhuha-Mu aku mengharap

Limpahan rezeki-Mu
Orangtua yang masih peduli
Pasangan hidup yang mencintai
Keturunan yang sholeh-sholeha
Kesehatan jasmani
Iman yang selalu ada
Kerjaan yang baik
Teman kerja yang baik, yang tidak menikam demi akuan dari bos

Bukankah rezeki bukan melulu soal gaji dari bos?

Kurengkuhkan tubuh ini, menyembah-Mu, mengharap rezeki-Mu, kemurahan-Mu
Sebagai wujud syukurku, menyambut datangnya matahari.

Ah, apalah aku jika mentari-Mu tak bertandang?

Nur Musabikah
Kota Nanas, 1 September 2019

#onedayonepost

Jumat, 08 Juni 2018

Toleransi Buah dari Akhlak Baik

Sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan. Sikap saling menjaga keutuhan. Sikap saling menjunjung kedamaian. Tiga kalimat tersebut mungkin mewakili arti toleransi, tema RWCODOP kali ini.

Kita hidup di Indonesia, negara yang penuh warna suku dan agama. Sudah layaknya betoleran. Tak lain supaya negeri kita aman dan damai.

Tapi kenapa masih ada orang yang tidak bertoleran? bersikap bengis terhadap perbedaan.

Manusia dengan segala kekurangannya menginginkan unggul dari yang lain. Apalagi jika tidak sekubu, segolongan. Ia akan melakukan hal apapun untuk menang.

Sikap ini bisa hilang, jika kita benar-benar selalu dekat dengan Tuhan. Iya, orang yang bertakwa. Orang-orang tersebut pasti punya akhlak baik. Dari perilaku baik ini akan melatih kita memilih perilaku yang tak pantas atau merugikan orang lain. Termasuk perilaku terhadap golongan yang berbeda, baik agama, suku, bahkan negara.

*Graha Subang Kencana 2 (GSK2), Jum'at terakhir bulan ramadan, satu jam sebelum berangkat nguli :)

#RWCODOP2018
#Ramadan1439H
#Nasihatdiri

Selasa, 05 Juni 2018

Masa Remaja

Setiap insan pasti merasakan kebahagiaan tersendiri ketika mengenang masa lalu. Salah satunya masa remaja, masa --yang konon-- sebagai ajang nencari jati diri, masa di mana sesorang harus mulai mengejar mimpi-mimpi.

Aku terlahir dari keluarga sederhana, kaya pun tidak, miskin pun tidak, ngepas. Tradisi mesantren sudah ada sejak orang tua terdahulu. Pun dengan kami, anak-anaknya. Harus masuk pesantren saat waktunya tiba.

Hmm aku skip dulu deh...

Masa SMP, masa di mana aku mengenakan kerudung. Tahu apa alasanya? Karena mimi (baca: ibu) selalu membandingkan aku dengan orang lain. Masih sangat jelas ucapannya,

"Nok, ga mau kayak dia tah? bisa berpakaian rapat dan rapih? padahal kamu itu ya, pagi-pagi ke sekolah pakai kerudung, pulangnya langsung sekolah madrasah pakai kerudung juga, ashar pulang. Abis maghrib berangkat lagi, ngaji. Masa masih betah dengan kaos dan celana pendek?"

Huhu, jiwa mudaku saat itu memberontak. Hihi. Aku juga sempet ngebatin, "Mungkin karena dia rambutnya keriting, Mi. Jadi ditutupin."

Untungnya ga aku ucap langsung dihadapan Mimi sih, bisa-bisa
mulutku di potong beliau. Hihi.

Bergulirnya waktu, aku malu sendiri ketika pulang sekolah madrasah, harus ganti baju atau kaos dan celana pendek.
"Capek juga kalau harus gonta-ganti pakaian.Toh bentar lagi maghrib," batinku.

Tepatnya bulan ramadan kelas dua SMP, tahun 2005 (Yah, ketahuan deh usiaku  sudah ga muda) aku belajar pakai kerudung. Jadi sepulang dari sekolah madrasah, tak kulepas kain segitiga itu. Dan ya Alhamdulilaah hingga sekarang bisa pakai, terima kasih Mimi. Heuheu

Oh iya lanjut tradisi mesantren di keluargaku ya...

Lulus SMP aku tinggal di pesantren Cirebon, dua jam-an dari tempat tinggalku, Indramayu. Untuk menuju ke sana, kami biasa menggunakan bus. Walaupun dekat, aku jarang pulang, Libur pesantren dan sekolah formal tidak sama. Ketika kegiatan pesantren libur, sekolah formal malah aktif, dan sebaliknya. Jad, kalau mau pulang pas menjelang idul fitri.

Salah satu hal yg paling kuingat, ketika aku belajar pakai sarung. Hihi. Ya di sana diwajibkan pakai sarung setiap hari, kecuali kegiatan pulang sekolah formal, yakni madrasah pesantren. Seperti sekolah madrasah pada umumnya, kami diwajibkan pakai seragam, baju putih/batik dengan bawahan rok.

Pertama kali belajar sih, masih merasa takut sarungnya jatuh. Hihi. Apalagi kalau lipatan kiri dan kanan ga sejajar, tambah susah untuk jalan. Haha

Berjalannya waktu, aku sudah terbiasa pakai sarung. Malah kami sering pakai sarung yang saat itu kekinian di pesantren. Sarung Tuban. Ya, sarung yg bahannya jatuh, ga tebel, tapi ga nerawang. Motif dan warnanya beraneka ragam. Mungkin sarung tersebut produksi dari daerah Jawa lainnya juga. Tapi, entah kenapa kami sering menyebutnya sarung Tuban.

Nah itu sekilas cerita masa remajaku. Entahlah, aku harus menyesal atau sedih karena mimi menyuruhku tinggal di pesantren, tempat yang identik dengan ketertinggalan, ga moderen. Hiks

Tapi yakinlah, seperti yang pernah diucapkan oleh saudaraku, "Selagi masih di dunia, sesuatu yang ga tahu dan bisa, dapat kita pelajari. Tapi kalau sudah di akhirat, mana bisa?"

*GSK 2, saat matahari menyapaku, masih tanpamu.

#RWCODOP2018
#Ramadankarim

Senin, 04 Juni 2018

Selametan: Berkumpul untuk Berdoa

Indonesia memiliki banyak beragam tradisi. Selametan salah satunya. Hingga sekarang, tradisi ini masih dilakukan orang Jawa. Mungkin juga luar Jawa, hanya saja beda nama.

Konon, selametan adalah warisan para ulama terdahulu. Mengumpulkan saudara, kerabat, tetangga untuk mendoakan apa yang diinginkan dari sohibul bait, orang yang punya hajat.

Di tempat tinggalku nama selametan masih umum. Ada beberapa nama khusus.

Misalnya, selametan untuk seorang wanita yang hamil tujuh bulan. Kami biasa menyebutnya memitu. Tujuannya tak lain untuk mendoakan supaya bayi dan ibu nya selalu dalam keadaan sehat dan diberi keselamatan saat melahirkan. Jika nanti bayi sudah lahir, orang tua memberi nama, selametan ini biasa disebut puputan. Bahkan ada beberapa orang sekaligus menyembelih kambing, mungkin niat beraqiqah.

Selametan untuk orang meninggal ketika sudah tujuh hari biasa kami sebut mitung dina, empat puluh hari matang puluh, hingga seratus hari nyatus.

Masih banyak jenis-jenis nama selametan lainnya.

Selametan biasa dilakukan dengan tahlilan atau merhaban. Biasanya yang hadir laki-laki. Sedangkan para wanita hadir untuk kondangan, bawa beras. Selain makan di rumah hajat, sepulangnya nanti masih dibawa makanan dari yang punya hajat. Tak lain adalah berkat.

Sekian.

#RWCODOP2018
#Ramadan1439H

Minggu, 03 Juni 2018

Obrolan Dua Pemuda

Dua pemuda duduk di teras masjid, kopiah hitamnya masih bertenggar gagah di kepala keduanya.

"Lu, udah beli baju baru belum, Mblo?"

"Usiamu berapa, Bro?"

"Eh gua nanya. Lu kok nanya balik?"

"Lha itu jawabanya kok!"

"Mblo, Mblo... Terkadang, lu aneh."

Haha. Keduanya serentak tertawa.

"Gini Bro, Lebaran pakai baju baru cukup buat adik-adik kite aja."

"Kok bisa?"

"Anggap saja itu hadiah buat mereka, bisa berpuasa selama satu bulan. Kita kan udah gede, masa masih butuh baju baru."

"Hmmm..."

"Memang, Tradisi kita lebaran itu identik dengan hal baru, pakaian baru, sandal baru, makanan baru, sampai toples isi rengginang pun baru... Ya, sejatinya lebaran itu diri kita kembali suci, seperti bayi baru lahir."

"Bersih dari dosa gitu, Mblo?

"Betul. Karena kita telah menjalankan puasa, menahan hal yang kita bisa lakukan, makan dan minum contohnya. Bukan hanya itu, menahan hawa nafsu juga. Oh iya, niat puasanya pun hanya karena iman dan mengharapkan Ridho Allah. Dan diakhir ramadan kita telah menunaikan zakat fitrah."

"Eh tapi ada yang puasa, tapi masih marah-marah. Dan terkadang bolong-bolong ga puasa. Apa masih tetap bersih dari segala dosa?"

"Bisa jadi niat puasanya tidak karena ridho Allah. Wallahu a'lam."

"Hmmm..."

"Tadarus sudah mau mulai, masuk masjid, yuk."

"Yuk... Tapi... "

"Kenapa lagi?"

"Gua sudah beli baju baru, Mblo. Nah gimana tuh?"

"Haha, tinggal dipakai aja. Masa mau lu buang tuh baju?!"

Haha... :D
--------

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/53537/makna-dan-hikmah-idul-fitri

*GSK 2, di malam tanpa bulan, tanpamu.

#RWCODOP2018
#Ramadan1439H
#Nasihatdiri

Jumat, 01 Juni 2018

Kekasih Simpanan

Suatu hari, jika tak temukan aku dalam lembutnya selimut, aku bersamanya, kekasihku, selainmu

Jika tak temukan aku duduk di sofa, menunggumu, tempat biasa kita bersua, aku bersamanya, belahan jiwaku, selainmu

Jika  tak temukan aku di beranda facebook, aku bersamanya, teman hidupku, selainmu

Jika kau bosan menunggu balasan chatku yang masih centang satu, aku bersamanya, teman chatku, selainmu

Kamu tak usah cemburu apalagi kecewa. Sebab ia sama sekali tak bisa membalas cintaku. Hanya kamu seorang, cintaku

Karena ia adalah lembaran kertas yang belum sempat kusibak

Karena ia adalah tumpukan benda kotak di rak tua, yang belum sempat kukibas dengan kemoceng biru

Karena ia adalah buku-bukuku.

Rawabadak, 17 Ramadan 1439 H

#RWCODOP2018

Kamis, 31 Mei 2018

Tulisan Tentang Teman

Tak mudah untuk kita, sadari... Saling mendengarkan hati...
(Nidji)

Bicara teman, aku sering kesulitan mengartikannya. Entahlah😅

Dari teman, terkadang aku belajar dewasa. Gini, aku pernah punya teman ga punya ibu, ada ayah tapi sudah punya istri lain. Jadi, komunikasi sama ayahnya kurang. Temanku ini usianya lebih banyak dariku. Tapi sifat, sikapnya kayak anak kecil. Aku pun sempet ill feel. Setelah tahu kondisi sebenarnya, aku pun berusaha menyikapinya secara dewasa, berkata bijak dll. Hihi. Aku pikir wajar saja dia bersikap demikian, karena memang kurang mendapat kasih sayang dari kelurga. Ia butuh kasih sayang dari pertemanan. Ya, aku. Heuheu

Dari teman, aku belajar tentang hubungan saudara kandung. Aku punya teman, dia anak paling bungsu. Kalau mendengar cerita tentang keluarganh, aku bisa menyimpulkan, bahwa memang seorang kakak itu harus jadi teladan buat adik-adiknya. Secara, aku anak paling gede, ada pelajaran yg bisa kuambil menjadi seorang kakak, seperti temanku yg terinspirasi oleh kesuksesan kakaknya. Aku pun harus bisa menjadi inspirasi adik-adikku. Semoga.

Dari teman, aku belajar saling mengerti. Jika ada kesempatan untuk berkumpul, ada saja obrolan gini:
- Si A kok ga datang ya, kenapa?
+ Ibunya sedang sakit, dia jaga ibu di rumah.

- Si C kapan tuh nikahnya?
+ Dia kan anak pertama, baru aja lulus. Masih punya tanggungan adik-adik, mungkin dia mau fokus kerja buat keluarga dulu.

+ Kamu, kenapa sih jarang like statusku?
- Aku baper, like postingan foto bareng sama teman-temanmu yang cantik itu. Nanti rinduku padamu nambah bertambah.
+ Hihi... Cemburu ya? sayang dong sama aku
- Tau ah!

Ya, dari mereka aku belajar saling mengerti, memahami dan menghargai, menjaga hati.

Dari teman, aku belajar bersyukur. Ya, ketika teman-teman sudah tidak mempunyai orang tua lengkap. Itu membuatku harus lebih berbakti kepada kedua orang tua.

Hm ga ada ujungnya kalau bahas teman. Di atas hanya secuil apa yang kurasakan dari sebuah pertemanan. Kita. aku dan temanku.

Kau sempurna...
Jadi bagian hidupku...
Apapun kekuranganmu...
(Nidji)

*Kota Nanas, di bawah terangnya rembulan

#RWCODOP2018
#Ramadankarim
#Ramadan1439H

Selasa, 29 Mei 2018

Allah Tidak Tidur

"Makan yang banyak ah, biar nanti di tempat kerja ga lapar."

"Toh... Teman-teman, menganggapku puasa."

"Dia itu ya, udah tahu bulan radaman. Kok ga puasa."

"Sayang banget, puasanya kalau ga salat."

"Dia ini puasa ga sih, marah-marah terus."

Pernyataan-pernyataan ini mungkin pernah kita lontarkan. Seakan-akan kita tak menyadari kehadiran-Nya.
Seakan-akan kita lah yang lebih baik dari yang lain.

Allah mengawasi terhadap apa yang kita lakukan. Allah pun menutup aib kita dengan sangat rapat. Ia memberi waktu untuk kita memperbaiki kesalahan.

Makan siang hari di bulan ramadan, sama saja menganggap-Nya tidak melihat.

Menilai amal seseorang, sama saja menganggap diri ini paling baik. Hanya Allah yang menilai amal seseorang.

Allah tidak tidur. Karena salah satu sifat Allah Mukholafatul lil Khawadisti, artinya berbeda dengan seluruh makhluk. Dan tidur adalah salah satu sifat dari makhluk.

*Rawabadak, di sudut kamar kos.

#RWCODOP2018
#Fastwriting
#Nasihatdiri

Minggu, 27 Mei 2018

Sahur: Makan Spesial dalam Satu Tahun

Siapa yang benar-benar menikmati makan sahur? dengan kondisi tubuh lemes, mata masih sepet (salak kali!) dan belum sadar penuh. Saya pun harus mengakui, bukan saya. Hiks

Tak terasa pekan pertama terlewati, semoga makin semangat segala ibadahnya, salah satunya sahur.

Sahur, makan pagi hari sebelum waktu shubuh tiba, sebulan dalam satu tahun. Spesial kan? Iya. Tapi, ada saja yang malas melakukan aktivitas ini, contohnya saya. Hehe

Berikut saya bagi tips, supaya tetap semangat saat sahur:

1. Mandi
Jika waktu memungkinkan, bangun tidur segera mandi lalu salat tahajud. Dijamin seger! Sahur pun jadi semangat. Ini pengalamn saya saat dapet shift dua, pulang kerja sekitar pukul 22:15, setibanya di kos, saya langsung tidur (ga sengaja) dan belum salat isya. Alhamdulilahnya Allah bangunkan saya sebelum habis waktu isya. Sekitar jam dua. Alhasil saya mandi. Seger! sahur pun jadi semangat.

2. Percaya atau tidak, gadget ngaruh besar. Siapa yang bangun tidur, ga langsung tengok benda ajaib ini? Hehe. Gadget membuat mata terbuka. Apalagi kalau sudah  berselancar ke sosial media. Gunakan saja kesempatan ini supaya sahurnya semangat, ga ngantuk. Namun, tidak perlu kelamaan nanti keterusan, ga fokus makan dan teman sebelah. Hehe

3. Wudhu
Ya, walaupun ga mandi, biasakan wudhu. Supaya wajah kita cerah. Lebih utama lagi, salat dua rakaat:)

4. Sadar akan keutamaan sahur

Sahur itu sunah. Waktu sahur adalah berkah. Waktu sahur adalah waktu mustajab doa-doa kita. Jika kita punya kesadaran tentang hal itu, tidak ada rasa malas ketika bangun sahur. Semoga.

#RWCODOP2018
#Nasihatdiri

Rawabadak, dalam terangnya bulan :)

Belanja di Bulan Ramadan

Belanja merupakan aktivitas menyenangkan sekaligus menguras tenaga. Kegiatan ini sangat dekat dengan wanita. Hehe. Ayo, ngaku?!

Apalagi di bulan puasa, kegiatan ini dilakukan setiap hari, belanja sayur mayur buat persiapan buka dan sahur. Belum lagi menjelang beduk maghrib tiba,  orang-orang berbondong menyerbu pedagang kolak -makanan manis- atau es. Nah kan belanja lagi?!

Menyambut lebaran pun tak luput dari belanja. Baju, kerudung, peci, sarung, dan jenis pakaian lainya harus baru. Iya kan? Hehe
Eh makanan! Ya, lebaran rasanya tak lengkap dengan suguhan spesial. Bikin ketupat, opor, berbagai macam kue kering, bolu, puding, dan lain-lain.

Boleh saja sih, toh itu sebagai hadiah untuk anak atau adik bisa puasa sebulan penuh di bulan ramadan. Tapi kalau berlebihan? Kurang baik juga. Tulisan ini nasihat untuk diri saya dan kelaurga.

Mumpung ramadan, bulan dilipatgandakan segala amal, baiknya belanjakan saja harta kita untuk mereka yang membutuhkan. Nabi pun menganjurkan untuk umat-Nya, bahwasanya siapa saja yang memberi sebutir kurma atau seteguk air untuk orang yang berpuasa maka Allah akan memberikan pahala.

Di kampung saya, orang-orang pada ngasih makanan atau snack dan minuman kepada masjid atau musala. Untuk nanti dibagikan kepada jamaah tarawih. Bisa jadi, apa yang mereka lakukan  adalah bentuk sedekah di bulan penuh barokah.
Semoga.

Jadi? Tunggu apalagi? Ayok Belanja di bulan ramadan, membelanjakan harta di jalan-Nya:)

#RWCODOP2018
#Onedayonepost

Rabu, 23 Mei 2018

Tadarus-an

Tadarus-an
Oleh: Nur M

Satu bulan lamanya Engkau memanjakan
dengan segudang keutamaan, menjanjikan
dengan ampunan
dengan rahman, pahala dilipatgandakan

Setiap insan menyambut Nuzulul Quran
Kitab panutan
Kitab akhir zaman
Membacanya, mengkhatamkan

Corong setiap rumah-Mu bersautan
menyuarakan
melantunkan
Kalam-Mu  yang menawan

Terima kasih, Tuhan
Engkan beri kami, ramadan.
.
Rabu, 7 Ramadan 1439 H
.

#RWCODOP2018
#Ramadankarem

Selasa, 22 Mei 2018

Takjil dan Sabar

Nikmat yang agung ketika hari pertana puasa tiba, saya giliran shift pagi. Selain bisa tarawih, juga bisa bukber di kos. Konon, menurut karyawan lama saat buka puasa di pabrik, ngantrinya panjang. Iya lah, bayangkan ribuan karyawan tumplek dalam satu tempat. Biasanya jadwal makan selain bulan puasa, dibagi. Ngantri, tapi ga panjang.

Nah siang itu, sepulang kerja  saya dan teman satu kamar, langsung tepar. Kecapekan. Karena ga pasang alarm, pukul setengah lima  kami baru bangun. Sontak kami kelimpungan. Belum salat, belum belanja sayuran.

Setelah salat dan mandi, akhirnya kami memutuskan untuk beli lauk yang sudah masak, tak perlu repot. padahal kami tipe orang yang suka masak, apalagi numis sayuran.

Meluncurlah kami ke tempat beli penyegar. Es? Ya. 

"Kenapa sih beli es kelapa muda di sana? kan di sini dekat. "
saya request kepada teman.

"Di sana pakai air kelapa asli, " jawabnya meyakinkan.

Sebelum ke tempat, kami memesan ayam bakar dan goreng, nanti sekembalinya, tinggal ambil saja.

Ibu pelayan pun mengangguk, mengiyakan. Menanggap apa yang kami utarakan.

Kurang lebih sepuluh menit, kami jalan kaki. Setibanya, antrian pun lumayan panjang. Saya bertemu teman lama, teman satu angkatan pas training kerja. Kami ngobrol. Tapi ga lama, pesenan kami datang.

Angin sore dan semburat senja memanjakan kami. Membuat kami menikmati perjalanan tanpa kendaraan. Sesekali kami menengok, khawatir, karena banyak kendaraan roda dua berseliweran cepat di pinggir jalan.

Gerobak penjaja makanan di jalan, samar tak terlihat karena sekerumunan orang menutupi. Apalagi macam es buah, jus dan semacamnya.

Tak terasa kami sampai di sekerumunan  gerobak hijau bertuliskan "Sedia ayam dan ikan bakar" Kami pun langsung meminta pesanan sama ibu berkerudung biru itu. Jawabannya membuat kami tercengang.

"Maaf ya, saya lupa tadi siapa yang pesan. Jadi bungkusan punya kalian, saya kasih ke orang lain."

Deg! Yaampuuuun.

Ibu pelayan masih saja sibuk melayani orang-orang yang baru saya lihat. Ya mereka datang setelah keprgianku, beli es kelapa.
Entah kapan ia akan melayani pesanan kami.

"Ya sudah, Bu, kami pulang ke kos dulu. Salat dulu, nanti  kami kembali, jangan lupa tiga bungkus ya, Bu."

saya mengingatkan ulang, sebelum saya benar-benar pergi, memunggung gerobak dan orang-orang di sana.

Jujur, saya kesal banget. Hihi. Apalagi berbuka itu harus ditakjilkan, dipercepat, disegerakan, tidak ditunda. Kami pun segera pulang ke kos. Membatalkan puasa kami dengan seteguk air putih, lalu menyantap segarnya kelapa muda. Walaupun jengkel, saya berusaha sabar (ciee), tidak marah pada ibu pelayan. Bukannya hakikat ramadan itu menahan hawa nafsu?
.
Kota Mangga, di siang tanpa terik matahari.

*onedayonepost

Sabtu, 19 Mei 2018

Nikah, Bukber Ala Jomblo

Bukber, buka bersama saat azan maghrib tiba. Hmm, hingga jari ini menyentuh keyboard, belum terlintas tentang bukber. Apalagi yang paling berkesan. Lupa:(
Hm, kapan ya? Dimana? Dengan siapa? Oke, daripada ngulur waktu, sata cerita saja deh.
Bukber yang -mungkin- paling berkesan, ketika saya tinggal di sebuah penjara suci. Wew! Hehe iya, kami biasa menyebut dengan nama itu. Ya, saat itu saya nyantri di Cirebon.
Bulan ramadan kegiatan pondok libur. Libur sekolah madrasah, hafalan nadzoman, setor baca kitab, menggunakan bahasa tertentu di hari yang ditentukan dan seabrek kegiatan pondok lainnya.
Karena ramadan bulan berkah, kami berburu berkah dengan mengkaji kitab klasik atau kitab kuning karangan Ulama Nusantara hingga luar nusantara. kami biasa menyebutnya ngaji pasaran.

Tiap waktu ada jadwalnya. Tergantung para santri ingin ikut yang mana.

Kenetulan saya selalu ikut jadwal ngaji ba'da ashar. Selesai ngaji,  kurleb jam lima, kami pulang ke kamar masing-masing. Ambil uang, lalu ngantri di koperasi beli lauk-pauk. Bukan ngantri lagi ini mah tapi saling berdesakan. hihi. Gerah, berisik. Belum lagi, koperasi sangat dekat dengan tempat pengambilan nasi. Bolak-balik santri yang belanja dan sedang piket berpapasan. Oh ya, kami  punya jatah makan dari pondok, satu kotak nasi. Hanya saja, lauk pauknya kurang nyaman dilidah, jadi mau tak mau, kami harus beli tambahan lauk di koperasi.
Ye, tak lama, saya sudah mendapatkan laukan. Bergegas ke kamar, beberapa teman sudah melingkar di kamar masing masing.

Azan berkumandang, kami memakan takjil berupa makanan manis, saya biasa beli kolak pisang. hehe. setelah perut sedikit terisi, kami ke musala, ikut jamaah salat maghrib. Selesai, kembali ke kamar, dan makan bareng. Nikmatnya...
Walaupun jauh dari orang tua, teman-teman satu kamar bisa menggantikan keluarga di rumah. baitunnisa nama kamar saya.

Hehehe. Mana cerita bukber terkesan kalian?

Sebagai penutup tulisan kali ini, izinkan saya sedikit berceloteh.
Bulan ramadan adalah bulan menahan. Bukan hanya nahan lapar dan haus, tapi juga hawa nafsu. Betul?  ini mengingatkan saya dengan kaum jomblo. Siapapun.

Dalam aturan agama kita yaitu Islam, jika memang belum mampu untuk menikah maka berpuasalah.

Jadi, kaum jomblo ini sedang berpuasa. Artinya menjaga diri dan menyibukan diri mencari nafkah. Hingga menjadi lebih baik. Kemudian ia akan menemukan pendamping halal mengarungi samudera kehidupan. Pintu pernikahan terbuka. Setelah ijab kabul, keduanya berbuka puasa bareng. Ya, bukber. Manis. Sangat manis. Menerima cinta dari-Nya.

Kamu jomblo? Semangat! Persiapkan hari bukber dengan sebaik-baiknya. Selamat berpuasa, Mblo:') Selamat menuju pintu pernikahan:')

Saat Tuhan mengeluarkan ayat yang menjamin setiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan, seharusnya itu sudah lebih dari cukup bagi kita untuk percaya bahwa pasangan akan datang pada saatnya. Soal ia kelak datang sebagai pangeran atau preman, liriklah lagi habitatmu selama menjadi jomblo
(Salah satu kutipan dari buku Cerita Pilu Manusia Kekinian, Edi AH Iyubenu)

*Subang, di gelapnya malam tanpa bintang, tanpamu.

#Day2
#RWCODOP2018
#Ramadan1439H
#OneDayOnePost

Jumat, 18 Mei 2018

Sirup Ramadan

Senin kemarin, tepatnya tiga hari sebelum puasa, saya, Sinchan, Sintia dan Yayu berencana masak lalu makan bareng di kos.
Di kos Mbak ya, kata Sincan suatu hari, memohon kepada saya.
Kebetulan saat itu kami giliran shift pagi, jam dua siang selesai kerja, meninggalkan gedung besar itu.
Yayu ikut Sincan pulang awal. Membeli sayur.
Sedangkan saya dan Sintia jalan kaki.

Panas menyengat, membuat tenggorokan kami kering, minta disiram.
"Mbak, beli es yuh," ajak sintia saat kami baru keluar dari gerbang utama. Di depan sana, banyak pedagang.
"Beli es kelapa muda di depan gang kos saya ya, di sini mah pake gula buatan," jawabku.
Gadis asli sunda itu mengiyakan.

Tak lama, kami tiba di tempat. Memesan dua bungkus. Seorang bapak sigap melayani, lalu menyerahkan dua bungkus putih bening. Saya merasa aneh saat menerima.

"Eh kok warnanya merah. Biasanya warna coklat, pakai gula merah. "

Sintia diam melihat saya berbicara seorang diri di sepanjang jalan.
"Mungkin ini sirup, Mbak. Ya, walaupun tanpa sirup pun es ini sudah manis karena susu kental, ya. Tapi untuk menambah manis kali."
"Iya, iya... "

Kami jalan ke arah kos, Sinchan dan Yayu sudah sampai. Ngeliwet, nyambel, lalap dan goreng tempe ikan, menu yang akan kami buat.

Entah ini makan malam atau makan siang. Kami sudah makan nasi yang disediakan oleh perusahaan pukul sebelas. Heuheu. Makan bareng sebelum puasa, kata mereka.

(Cerita ngeliwet, saya lanjut di lain waktu ya. Hehe)

BTW, sirup sebagai penambah manis dalam es kelapa. Ada hal yang bisa dilakukan saat Ramadan. Agar Ramadan makin manis (utama). Salah satunya membaca Al Quran. Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk kita, umatnya. Semoga beliau mengakui kita sebagai umatnya. aamiin.

Membaca Al Quran akan mendapat sepuluh kebaikan setiap hurufnya. Sedangkan amal yang dilakukan pada bulan berkah ini akan dilipatgandakan. Waw!
Jadi, yuk... Gunakan satu bulan ini dengan baik. Semoga khatam, lalu khatam lagi dan khatam terus.

Rawabadak, Subang di malam tanpa bintang
#RWCODOP2018 #Day1 #OneDayOnePost #Ramadan1439H

THEME BY RUMAH ES